4.2.4 Analisis Data Observasi SMAN 11
Sesuai dengan teknik analisis data pada bab III, skor rata-rata dari tiga kali observasi dijadikan dalam bentuk persentase dengan menggunakan rumus:
NA= 100%
Keterangan: NA = Nilai akhir
S = Skor rata-rata observasi
Sm = Skor maksimum
Berdasarkan rumus tersebut, maka diperoleh nilai persentase untuk setiap indikator dari masing-masing guru. Kemudian dari perhitungan tersebut dapat ditentukan persentase rata-rata observasi untuk kemampuan setiap guru dalam mengimplementasikan standar proses dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
Berikut ini nilai rata-rata persentase untuk setiap indikator untuk SMAN 11 Palembang (lihat lampiran):
- Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran
Guru I: NA = 100%
= 100% = 80%
Guru J: NA = 100%
= 100% = 60%
Guru K: NA = 100%
= 100% = 60%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 66,67% termasuk kategori cukup
1.2 Beban kerja minimal guru dan buku teks pelajaran
Guru I: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru J: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru K: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 100% termasuk kategori baik
1.3 Pengelolaan kelas dalam pelaksanaan proses pembelajaran
Guru I: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru J: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru K: NA = 100%
= 100% = 80%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 93,33% termasuk kategori baik
1.4 Kesan umum kinerja guru
Guru I: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru J: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru K: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 100% termasuk kategori baik
- Pelaksanaan pembelajaran
2.1 Kegiatan pendahuluan
Guru I: NA = 100%
= 100% = 73,4%
Guru J: NA = 100%
= 100% = 60%
Guru K: NA = 100%
= 100% = 60%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 64,47% termasuk kategori cukup
2.2 Kegiatan inti
2.2.1 Eksplorasi
Guru I: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru J: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru K: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 100% termasuk kategori baik
2.2.2 Elaborasi
Guru I: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru J: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru K: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 100% termasuk kategori baik
2.2.3 Konfirmasi
Guru I: NA = 100%
= 100% = 93,4%
Guru J: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru K: NA = 100%
= 100% = 73,4%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 88,93% termasuk kategori baik
2.3 Kegiatan penutup
Guru I: NA = 100%
= 100% = 60%
Guru J: NA = 100%
= 100% = 80%
Guru K: NA = 100%
= 100% = 33,4%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 57,8% termasuk kategori cukup
- Penggunaan media pembelajaran
3.1 Menggunakan media yang sesuai
Guru I: NA = 100%
= 100% = 20%
Guru J: NA = 100%
= 100% = 33,4%
Guru K: NA = 100%
= 100% = 20%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 24,47% termasuk kategori tidak baik
- Penilaian hasil belajar
4.1 Melaksanakan penilaian untuk hasil belajar
Guru I: NA = 100%
= 100% = 46,6%
Guru J: NA = 100%
= 100% = 80%
Guru K: NA = 100%
= 100% = 73,4%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 66,67% termasuk kategori cukup
Berdasarkan perhitungan diatas dapat ditentukan persentase rata-rata indikator guru I, J, dan K untuk implementasi standar proses dalam pelaksanaan pembelajaran di SMAN 11 Palembang:
=
= = 78,4% termasuk kategori baik
4.2.5 Analisis Data Observasi SMA ARINDA
Sesuai dengan teknik analisis data pada bab III, skor rata-rata dari tiga kali observasi dijadikan dalam bentuk persentase dengan menggunakan rumus:
NA= 100%
Keterangan: NA = Nilai akhir
S = Skor rata-rata observasi
Sm = Skor maksimum
Berdasarkan rumus tersebut, maka diperoleh nilai persentase untuk setiap indikator dari masing-masing guru. Kemudian dari perhitungan tersebut dapat ditentukan persentase rata-rata observasi untuk kemampuan setiap guru dalam mengimplementasikan standar proses dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
Berikut ini nilai rata-rata persentase untuk setiap indikator untuk SMA ARINDA Palembang (lihat lampiran):
- Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran
1.1 Persiapan pelaksanaan proses pembelajaran
Guru L: NA = 100%
= 100% = 60%
Guru M: NA = 100%
= 100% = 60%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 60% termasuk kategori cukup
1.2 Beban kerja minimal guru dan buku teks pelajaran
Guru L: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru M: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 100% termasuk kategori baik
1.3 Pengelolaan kelas dalam pelaksanaan proses pembelajaran
Guru L: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru M: NA = 100%
= 100% = 80%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 90% termasuk kategori baik
1.4 Kesan umum kinerja guru
Guru L: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru M: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 100% termasuk kategori baik
- Pelaksanaan pembelajaran
2.1 Kegiatan pendahuluan
Guru L: NA = 100%
= 100% = 53,4%
Guru M: NA = 100%
= 100% = 60%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 56,7% termasuk kategori cukup
2.2 Kegiatan inti
2.2.1 Eksplorasi
Guru L: NA = 100%
= 100% = 80%
Guru M: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 90% termasuk kategori baik
2.2.2 Elaborasi
Guru L: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru M: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 100% termasuk kategori baik
2.2.3 Konfirmasi
Guru L: NA = 100%
= 100% = 80%
Guru M: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 90% termasuk kategori baik
2.3 Kegiatan penutup
Guru L: NA = 100%
= 100% = 40%
Guru M: NA = 100%
= 100% = 60%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 50% termasuk kategori kurang baik
3 Penggunaan media pembelajaran
3.1 Menggunakan media yang sesuai
Guru L: NA = 100%
= 100% = 20%
Guru M: NA = 100%
= 100% = 20%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 20% termasuk kategori tidak baik
4 Penilaian hasil belajar
4.1 Melaksanakan penilaian untuk hasil belajar
Guru L: NA = 100%
= 100% = 60%
Guru M: NA = 100%
= 100% = 80%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 70% termasuk kategori cukup
Berdasarkan perhitungan diatas dapat ditentukan persentase rata-rata indikator guru L dan M untuk implementasi standar proses dalam pelaksanaan pembelajaran di SMA ARINDA Palembang:
=
= = 75,15% termasuk kategori cukup
4.2.6 Analisis Data Observasi SMA Srijaya Negara
Sesuai dengan teknik analisis data pada bab III, skor rata-rata dari tiga kali observasi dijadikan dalam bentuk persentase dengan menggunakan rumus:
NA= 100%
Keterangan: NA = Nilai akhir
S = Skor rata-rata observasi
Sm = Skor maksimum
Berdasarkan rumus tersebut, maka diperoleh nilai persentase untuk setiap indikator dari masing-masing guru. Kemudian dari perhitungan tersebut dapat ditentukan persentase rata-rata observasi untuk kemampuan setiap guru dalam mengimplementasikan standar proses dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
Berikut ini nilai rata-rata persentase untuk setiap indikator untuk SMA Srijaya Negara Palembang (lihat lampiran):
- Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran
1.1 Persiapan pelaksanaan proses pembelajaran
Guru N: NA = 100%
= 100% = 60%
Guru O: NA = 100%
= 100% = 60%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 60% termasuk kategori cukup
1.2 Beban kerja minimal guru dan buku teks pelajaran
Guru N: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru O: NA = 100%
= 100% = 80%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 90% termasuk kategori cukup
1.3 Pengelolaan kelas dalam pelaksanaan proses pembelajaran
Guru N: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru O: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 100% termasuk kategori baik
1.4 Kesan umum kinerja guru
Guru N: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru O: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 100% termasuk kategori baik
- Pelaksanaan pembelajaran
2.1 Kegiatan pendahuluan
Guru N: NA = 100%
= 100% = 53,4%
Guru O: NA = 100%
= 100% = 80%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 66,7% termasuk kategori cukup
2.2 Kegiatan inti
2.2.1 Eksplorasi
Guru N: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru O: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 100% termasuk kategori baik
2.2.2 Elaborasi
Guru N: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru O: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 100% termasuk kategori baik
2.2.3 Konfirmasi
Guru N: NA = 100%
= 100% = 100%
Guru O: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 100% termasuk kategori baik
2.3 Kegiatan penutup
Guru N: NA = 100%
= 100% = 53,4%
Guru O: NA = 100%
= 100% = 53,4%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 53,4% termasuk kategori cukup
- Penggunaan media pembelajaran
3.1 Menggunakan media yang sesuai
Guru N: NA = 100%
= 100% = 20%
Guru O: NA = 100%
= 100% = 40%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 30% termasuk kategori tidak baik
- Penilaian hasil belajar
4.1 Melaksanakan penilaian untuk hasil belajar
Guru N: NA = 100%
= 100% = 66,6%
Guru O: NA = 100%
= 100% = 60%
Nilai rata-rata per indikator:
= = = 63,3% termasuk kategori cukup
Berdasarkan perhitungan diatas dapat ditentukan persentase rata-rata indikator guru N dan O untuk implementasi standar proses dalam pelaksanaan pembelajaran di SMA Srijaya Negara Palembang:
=
= = 78,4% termasuk kategori cukup
4.2.7 Analisis Data Observasi SMA YULIS
Sesuai dengan teknik analisis data pada bab III, skor rata-rata dari tiga kali observasi dijadikan dalam bentuk persentase dengan menggunakan rumus:
NA= 100%
Keterangan: NA = Nilai akhir
S = Skor rata-rata observasi
Sm = Skor maksimum
Berdasarkan rumus tersebut, maka diperoleh nilai persentase untuk setiap indikator dari masing-masing guru. Kemudian dari perhitungan tersebut dapat ditentukan persentase rata-rata observasi untuk kemampuan setiap guru dalam mengimplementasikan standar proses dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
Berikut ini nilai rata-rata persentase untuk setiap indikator untuk SMA YULIS Palembang (lihat lampiran):
- Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran
1.1 Persiapan pelaksanaan proses pembelajaran
Guru P: NA = 100%
= 100% = 60%
Nilai rata-rata per indikator: 60% termasuk kategori baik
1.2 Beban kerja minimal guru dan buku teks pelajaran
Guru P: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator: 80% termasuk kategori baik
1.3 Pengelolaan kelas dalam pelaksanaan proses pembelajaran
Guru P: NA = 100%
= 100% = 80%
Nilai rata-rata per indikator: 80% termasuk kategori baik
1.4 Kesan umum kinerja guru
Guru P: NA = 100%
= 100% = 100%
Nilai rata-rata per indikator: 100% termasuk kategori baik
- Pelaksanaan pembelajaran
2.1 Kegiatan pendahuluan
Guru P: NA = 100%
= 100% = 46,6%
Nilai rata-rata per indikator: 46,6% termasuk kategori kurang baik
2.2 Kegiatan inti
2.2.1 Eksplorasi
Guru P: NA = 100%
= 100% = 86,6%
Nilai rata-rata per indikator: 86,6% termasuk kategori baik
2.2.2 Elaborasi
Guru P: NA = 100%
= 100% = 86,6%
Nilai rata-rata per indikator: 86,6% termasuk kategori baik
2.2.3 Konfirmasi
Guru P: NA = 100%
= 100% = 86,6%
Nilai rata-rata per indikator: 86,6% termasuk kategori baik
2.3 Kegiatan penutup
Guru P: NA = 100%
= 100% = 33,4%
Nilai rata-rata per indikator: 33,4% termasuk kategori tidak baik
- Penggunaan media pembelajaran
3.1 Menggunakan media yang sesuai
Guru P: NA = 100%
= 100% = 20%
Nilai rata-rata per indikator: 20% termasuk kategori tidak baik
- Penilaian hasil belajar
4.1 Melaksanakan penilaian untuk hasil belajar
Guru P: NA = 100%
= 100% = 60%
Nilai rata-rata per indikator: 60% termasuk kategori cukup
Berdasarkan perhitungan diatas dapat ditentukan persentase rata-rata indikator guru P untuk implementasi standar proses dalam pelaksanaan pembelajaran di SMA YULIS Palembang:
=
= = 69,07% termasuk kategori cukup
Berdasarkan analisis tabel 12 dapat diketahui bahwa persentase rata-rata kemampuan guru ekonomi setiap sekolah dalam mengimplementasikan standar proses dalam pelaksanaan pembelajaran di SMA sekecamatan Ilir Barat I kota Palembang adalah sebagai berikut:
% rata-rata =
=
= 76,45% termasuk kategori baik
4.2 Analisa Data Dokumentasi
Dalam penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data-data berupa RPP yang dibuat oleh guru sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Data dokumentasi diambil sebagai data pendukung yang dikumpulkan dari RPP guru , untuk dilihat apakah komponen sudah sesuai dengan kelengkapan komponen RPP. RPP yang dikumpulkan dari 7 sekolah sebagai sampel, komponen RPP nya yaitu sebagai berikut:
- Perumusan Tujuan Pembelajaran
Rata-rata perumusan tujuan pembelajaran yang digunakan minimal 2 buah dan maksimal 5 buah. Dimana tujuan pemebelajaran ini sesuai dengan indikator pembelajaran.
- Mengorganisasikan dan mengembangkan Materi Pembelajaran
Rata-rata materi pembelajaran telah dipaparkan secara jelas sesuai dengan perumusan tujuan pembelajaran yang dibuat.
- Metode Pembelajaran
Guru kebanyakan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, penugasan, diskusi, dan penugasan.
- Langkah-langkah pembelajaran
Langkah-langkah pembelajaran sudah seesuai dengan sistematis pembelajaran dimana sudah terdapat kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
- Media dan Sumber Belajar
Kebanyakan para guru belum menggunakan media dalam pelaksanaan proses pembelajaran, rata-rata guru hanya menggunakan papan tulis yang memang telah tersedia di kelas. Tapi ada juga beberapa guru yang menggunakan media dalam proses pembelajaran, media yang digunakan yaitu LCD dan charta.
Sumber belajar yang digunakan yaitu berupa buku paket yang sudah sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, serta sudah sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Diman para guru menggunakan sumber belajar yang beragam.
- Penilaian
Alat penilaian pembelajaran rata-rata diambil pada akhir pembelajaran yaitu melalui tugas individu maupun kelompok, dan dengan mengadakan kuis. Jenis penilaian yang dipakai kebanyakan menggunakan tes tertulis
Dalam metode dokumentasi, selain untuk memperoleh data berupa RPP,dokumentasi lain yang dikumpulkan yakni berupa fhoto-fhoto para guru yang sedang melaksanakan proses pembelajaran yang terlampir pada lampiran skripsi ini.
4.3 Pembahasan
Berdasarkan hasil data yang dikumpulkan dari SMAN 1 indikator persyaratan pelaksanaan pembelajaran terlihat bahwa SMAN 1 sudah ternasuk kategori baik dalam memenuhi persyaratan pembelajaran (80%). Jumlah peserta didik dalam satu kelas tidak melebihi batas maksimum yang telah ditentukan. Guru menyusun RPP setiap KD, dan guru juga mengatur tempat duduk peserta didik sesuai dengan karakteristik peserta didik. Persyaratan pelaksanaan pembelajaran yang belum terpenuhi hanya rasio buku teks untuk peserta didik belum 1:1 per mata pelajaran tetapi rasionya masih 2:1 per mata pelajaran.
Berdasarkan analisa pada indikator persyaratan pelaksanaan pembelajaran di SMAN 2 dalam memenuhi persyaratan pelaksanaan pembelajaran termasuk kategori cukup (70%). Guru menyusun RPP setiap KD dan juga mengatur tempat duduk peserta didik sesuai dengan karakteristik peserta didik, tapi yang masih belum terpenuhi adalah jumlah peserta didik yang melebihi batas maksimal peserta didik setiap rombongan belajar dan masih ada di beberapa rombongan belajar yang ratio buku teks pelajarannya masih 2:1 per mata pelajaran
Berdasarkan analisa pada indikator persyaratan pelaksanaan pembelajaran di SMAN 10 dalam memenuhi persyaratan pelaksanaan pembelajaran termasuk kategori cukup (66,67%). Guru menyusun RPP setiap KD dan juga mengatur tempat duduk peserta didik sesuai dengan karakteristik peserta didik, tapi yang masih belum terpenuhi adalah jumlah peserta didik yang masih melebihi batas maksimal peserta didik dalam setiap rombongan belajar dan masih ada rombongan belajar yang ratio buku teks pelajarannya masih 2:1 per mata pelajaran.
. Berdasarkan analisa indikator persyaratan pelaksanaan pembelajaran di SMAN 11 dalam memenuhi persyaratan pelaksanaan pembelajaran termasuk kategori cukup (66,67%). Persyaratan pelaksanaan pembelajaran yang masih belum terpenuhi adalah jumlah peserta didik yang masih melebihi batas maksimal peserta didik dalam setiap rombongan belajar dan masih ada rombongan belajar yang ratio buku teks pelajarannya 2:1 per mata pelajaran. Persyaratan yang terpenuhi yakni guru menyusun RPP setiap KD dan juga mengatur tempat duduk peserta didik sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Berdasarkan analisa indikator persyaratan pelaksanaan pembelajaran di SMA ARINDA dalam memenuhi persyaratan pelaksanaan pembelajaran termasuk kategori cukup (60%). Guru menyusun RPP setiap KD dan juga mengatur tempat duduk peserta didik sesuai dengan karakteristik peserta didik, tapi yang masih belum terpenuhi adalah jumlah peserta didiknya 40 peserta didik yang berarti melebihi batas maksimal peserta didik dalam setiap rombongan belajar dan ratio buku teks pelajaran untuk peserta didik adalah 2:1 per mata pelajaran.
. Berdasarkan analisa indikator persyaratan pelaksanaan pembelajaran di SMA Srijaya Negara dalam memenuhi persyaratan pelaksanaan pembelajaran termasuk kategori cukup (60%). Persyaratan pelaksanaan pembelajaran yang masih belum terpenuhi adalah jumlah peserta didik yang masih melebihi batas maksimal peserta didik yakni 36-38 peserta didik dalam setiap rombongan belajar dan masih ada rombongan belajar yang ratio buku teks pelajarannya 2:1 per mata pelajaran. Untuk persyaratan yang telah terpenuhi yakni guru menyusun RPP setiap KD dan juga mengatur tempat duduk peserta didik sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran.
Berdasarkan hasil data yang dikumpulkan pada indikator persyaratan pelaksanaan pembelajaran terlihat bahwa SMA YULIS sudah ternasuk kategori cukup (60%). Jumlah peserta didik dalam satu kelas tidak melebihi batas maksimum tapi juga melewati batas minimum peserta didik, guru menyusun RPP untuk setiap KD, dan guru juga mengatur tempat duduk peserta didik sesuai dengan karakteristik peserta didik. Persyaratan pelaksanaan pembelajaran yang juga belum terpenuhi rasio buku teks untuk peserta didik belum 1:1 per mata pelajaran tetapi rasionya masih 2:1 per mata pelajaran.
Untuk indikator beban kerja minimal guru dan buku teks pelajaran, rata-rata setiap sekolah menunjukan kategori baik. Beban kerja guru rata-rata sudah mencukupi 24 jam tatap muka dalam satu minggu. Yang mana beban kerja guru tersebut mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil belajar, membimbing dan melatih peserta didik serta melaksanakan tugas tambahan lainnya. Untuk penggunaan buku teks pelajaran, semua gur di tiap sekolah menggunakan buku panduan guru, buku pengayaan, buku referensi dan sumber belajar lainnya. Para guru juga membiasakan peserta didik untuk menggunakan buku-buku dan sumber belajar lain yang ada.
Pada indikator pengelolaan kelas dalam proses pembelajaran rata-rata setiap sekolah menunjukan kategori baik. Dalam tiga kali observasi SMAN 10 dan SMA Srijaya Negara ke empat deskriptor dalam pengelolaan kelas muncul yaitu guru benar-benar melaksanakan pembelajaran berdasarkan RPP yang telah dibuat, guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respon siswa, guru memulai dan mengakhiri pelajaran tepat waktu dan juga guru menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, dan kepatuhan pada peraturan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran. Di SMAN 1, SMAN 2, SMAN 11 juga sudah mengelola kelas dengan kategori baik (masing-masing 93,3%, 96,7%, dan 93,33%), hanya saja ada masih ada guru yang tidak tepat waktu dalam memulai dan mengakhiri proses pembelajaran. Untuk SMA ARINDA juga mendapatkan 90% ( termasuk kategori baik) dalam mengelola kelas, tapi masih ada guru yang melaksanakan proses pembelajaran yang tidak sesuai dengan RPP yang telah disusunnya. Sedangkan SMA YULIS dalam mengelola kelas 80% (baik), tetapi deskriptor yang tidak muncul yaitu guru tidak menciptakan kenyaman, ketertiban, kedisiplinan dan kepatuhan dalam peraturan selama pelaksanaan proses pembelajaran.
Untuk indikator kesan umum kinerja guru semua sekolah sudah menunjukan kategori baik. Di SMAN 1, SMAN 2, SMAN 10, SMAN 11, SMA ARINDA, SMA Srijaya Negara, dan SMA YULIS persentase kesan umum kinerja guru semuanya termasuk kategori baik (100%), yang artinya selama melaksanakan tiga kali observasi, keempat deskriptor muncul dari semua sekolah yakni volume dan intonasi suara guru besar sehingga dapat didengar dengan baik oleh peserta didik, guru juga menggunakan tutur kata yang santun dan dapat dimengerti oleh peserta didik, guru menghargai pendapat peserta didik, serta para guru juga selalu memakai pakaian yang bersih, rapi dan sopan.
Dalam pelaksanaan pembelajaran, untuk indikator kegiatan pendahuluan di SMAN 1 termasuk kategori cukup (62,2%). Guru dalam kegiatan pendahuluan selalu menyiapkan para peserta didik secara fisik dan psikis agar peserta didik benar-benar siap untuk mengikuti proses pembelajaran. Selanjutnya guru juga mengajukan petanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi sebelumnya dan materi yang akan dipelajari, walaupun ada satu kali observasi guru A dalam kegiatan pendahuluan tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan baik yang berkaitan dengan materi sebelumnya maupun materi yang akan dipelajari. Dalam 3 kali observasi pada guru A B dan C, hanya guru B saja yang pernah menjelaskan tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar yang hendak dicapai sedangkan yang lainnya tidak pernah.
Berdasarkan hasil data yang dikumpulkan untuk indikator kegiatan pendahuluan SMAN 2 termasuk kategori cukup (60%). Dalam tiga kali observasi, baik guru D maupun guru E dari keduanya hanya memunculkan dua deskriptor saja yakni menyiapkan peserta didik secara fisik dan psikis untuk mengikuti proses pembelajaran dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Sedangkan dua deskriptor lainnya yang tidak muncul yakni menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai dan guru menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus.
Berdasarkan hasil data yang dikumpulkan untuk indikator kegiatan pendahuluan di SMAN 10 termasuk kategori cukup (64,47%). Guru dalam kegiatan pendahuluan selalu menyiapkan para peserta didik secara fisik dan psikis agar peserta didik benar-benar siap untuk mengikuti proses pembelajaran. Selanjutnya guru juga mengajukan petanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi sebelumnya dan materi yang akan dipelajari, walaupun ada satu kali observasi guru F dalam kegiatan pendahuluan tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan baik yang berkaitan dengan materi sebelumnya maupun materi yang akan dipelajari. Dalam observasi pada guru F,G dan H, hanya guru G saja yang menjelaskan tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar yang hendak dicapai dalam setiap pertemuan sedangkan yang lainnya tidak pernah. Dan satu deskriptor yang juga tidak pernah muncul yakni menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus.
Berdasarkan analisa indikator kegiatan pendahuluan SMAN 11 termasuk kategori cukup (64,47%). Dalam tiga kali observasi pada guru J dan K hanya memunculkan dua deskriptor saja yakni menyiapkan peserta didik secara fisik dan psikis untuk mengikuti proses pembelajaran dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Sedangkan dua deskriptor lainnya tidak muncul. Sedangkan pada guru I ada tiga deskriptor yang muncul yakni menyiapkan peserta didik secara fisik dan psikis untuk mengikuti proses pembelajaran, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari, dan menjelaskan tujuan pembelajaran dan KD yang akan dicapai, meskipun pada observasi kedua guru I deskriptor yang ketiga juga tidak muncul. Sedangkan untuk deskriptor guru menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus benar-benar tidak muncul dari ketiga guru.
Berdasarkan analisa indikator kegiatan pendahuluan SMA ARINDA termasuk kategori cukup (56,7%). Dalam tiga kali observasi, baik guru L maupun guru M dari keduanya hanya memunculkan dua deskriptor saja yakni menyiapkan peserta didik secara fisik dan psikis untuk mengikuti proses pembelajaran dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Sedangkan dua deskriptor lainnya yang tidak muncul yakni menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai dan guru menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus.
Berdasarkan analisa indikator kegiatan pendahuluan SMA Srijaya Negara termasuk kategori cukup (66,7%). Dalam tiga kali observasi, persentase untuk guru N 80%. Pada observasi pertama guru N ada tiga deskriptor yang muncul yakni menyiapkan peserta didik secara fisik dan psikis untuk mengikuti proses pembelajaran, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari, dan menjelaskan tujuan pembelajaran dan KD yang akan dicapai. Pada observasi kedua, keempat deskriptor pada indikator kegiatan pendahuluan muncul semua. Dan pada observasi ketiga deskriptor yang muncul hanya dua yakni menyiapkan peserta didik secara fisik dan psikis untuk mengikuti proses pembelajaran, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Sedangkan dua deskriptor lainnya tidak muncul. Sedangkan untuk guru O dari tiga kali observasi, deskriptor yang selalu muncul hanya dua yakni menyiapkan peserta didik secara fisik dan psikis untuk mengikuti proses pembelajaran, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
Berdasarkan analisa indikator kegiatan pendahuluan SMA YULIS termasuk kategori kurang baik (46,6%). Dalam tiga kali observasi yang dilakukan pada guru P, observasi pertama deskriptor yang muncul ada dua yakni menyiapkan peserta didik secara fisik dan psikis untuk mengikuti proses pembelajaran, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Sedangkan pada observasi kedua dan ketiga hanya ada satu deskriptor yang muncul yakni menyiapkan peserta didik secara fisik dan psikis untuk mengikuti proses pembelajaran sedangkan deskriptor yang lainnya tidak muncul.
Dalam mengelola kegiatan inti terutama untuk indikator kegiatan eksplorasi rata-rata dari ketujuh sekolah menunjukan kategori baik. Dari tiga kali observasi SMAN 1, SMAN 2, SMAN 10, SMAN 11 dan SMA Srijaya Negara empat deskriptor dalam kegiatan eksplorasi muncul yakni melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang materi yang akan dipelajari, menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar lainnya, memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta interaksi antara peserta didik dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya, dan melibatkan peserta didik secara aktif dan dalam kegiatan pembelajaran sehingga persentase kemampuan para gurunya dalam menerapkan kegiatan eksplorasi 100% (termasuk kategori baik). Untuk SMA ARINDA untuk indikator kegiatan eksplorasi termasuk kategori baik (90%) karena dari dua guru yang diamati masih ada salah satu guru yang belum melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang materi yang akan dipelajari dan belaja dari aneka sumber. Sedangkan untuk SMA YULIS juga termasuk kategori baik (86,6%), tapi ada deskriptor yang masih belum muncul yakni guru masih belum melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.
Untuk indikator kegiatan elaborasi dalam kegiatan inti dari ketujuh sekolah semuanya menunjukan kategori baik. Dari tiga kali observasi SMAN 1, SMAN 2, SMAN 10, SMAN 11, SMA ARINDA dan SMA Srijaya Negara empat deskriptor dalam kegiatan eksplorasi muncul yakni membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna, memfasilitasi peserta didik melalui tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tulisan, memberikan kesempatan untuk berfikir, menganalisis menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa takut, dan memfasilitasi peserta didik agar terlibat secara optimal dalam melakukan setiap kegiatan baik secara kelompok maupun individu, sehingga persentase kemampuan para gurunya dalam menerapkan kegiatan elaborasi termasuk dalam kategori baik (100%). Untuk SMA YULIS berdasarkan analisa juga termasuk kategori baik (86,6%), tapi dalam tiga kali observasi masih ada satu deskriptor yang tidak muncul yakni guru tidak memfasilitasi peserta didik agar terlibat secara optimal dalam melakukan setiap kegiatan baik secara kelompok maupun individu.
Untuk indikator kegiatan konfirmasi dalam kegiatan inti dari ketujuh sekolah semuanya menunjukan kategori baik. Dari tiga kali observasi SMAN 1, SMAN 10, dan SMA Srijaya Negara empat deskriptor dalam kegiatan konfirmasi muncul yakni memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik, guru berfungsi menjadi narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar, guru memberikan informasi lebih lanjut agar peserta didik bisa bereksplorasi lebih jauh, dan guru memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif, sehingga persentase kemampuan guru di SMAN 1, SMAN 10 dan SMA Srijaya Negara dalam menerapkan kegiatan konfirmasi termasuk dalam kategori baik (100%).
Berdasarkan analisa indikator kegiatan konfirmasi dalam kegiatan inti SMAN 2 termasuk kategori baik (86,6%). Dalam tiga kali observasi guru D masih ada satu deskriptor yang tidak muncul yakni guru memberi informasi lebih lanjut agar peserta didik bisa bereksplorasi lebih jauh. Sedangkan pada observasi guru E pada observasi pertama dan kedua, empat deskriptor muncul, pada observasi ketiga hanya ada dua deskriptor saja yang muncul yakni memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik dan guru memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif. Sedangkan dua deskriptor yang tidak muncul yakni guru berfungsi menjadi narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar, dan guru memberikan informasi lebih lanjut agar peserta didik bisa bereksplorasi lebih jauh.
Berdasarkan analisa indikator kegiatan konfirmasi dalam kegiatan inti SMAN 11 termasuk kategori baik (88,93%). Pada observasi guru I untuk yang pertama dan kedua semua deskriptor muncul, pada observasi ketiga deskriptor yang muncul ada tiga, sedangkan untuk deskriptor guru memberi informasi lebih lanjut agar peserta didik bisa bereksplorasi lebih jauh tidak muncul. Untuk guru J dari ketiga kali observasi, empat deskriptor yang muncul. Sedangkan untuk guru K pada observasi pertama, empat deskriptor muncul. Pada observasi kedua dan ketiga deskriptor yang muncul ada dua yakni memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik, dan memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif, sedangkan dua deskriptor lainnya tidak muncul.
Berdasarkan hasil data yang dikumpulkan untuk indikator kegiatan penutup terlihat bahwa SMAN 1 termasuk kategori kurang baik dalam melakukan kegiatan penutup (53,3%). Guru A dan guru B dalam melakukan kegiatan penutup sudah termasuk dalam kategori cukup dengan persentase kemampuan dalam menutup pelajaran 60%. Tetapi untuk guru C dalam menutup pelajaran masih termasuk dalam kategori kurang baik dengan persentase kemampuan dalam menutup pelajaran 40%. Deskriptor yang muncul pada observasi guru A, B, dan C yakni bersama-sama peserta didik membuat kesimpulan, memberikan tugas kepada peserta didik, dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Berdasarkan analisa indikator kegiatan penutup SMAN 2 termasuk kategori kurang baik (50%). Dari tiga kali observasi, guru D dalam menutup pelajaran termasuk dalam kategori cukup (60%). Sedangkan guru E dalam melakukan kegiatan penutup termasuk kategori kurang baik. Deskriptor yang muncul pada observasi guru D dan E yakni membuat kesimpulan bersama dengan peserta didik maupun sendiri, memberikan tugas individu kepada peserta didik dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Berdasarkan analisis indikator kegiatan penutup SMAN 10 termasuk kategori kurang baik (55,53%). Pada observasi guru F dari tiga kali observasi hanya dua deskriptor saja yang sering muncul dalam setiap observasi. Sehingga persentase kemampuan guru F dalam menutup pelajaran termasuk kategori cukup (60%). Kemampuan guru G dalam menutup pelajaran termasuk dalam kategori cukup (60%). Pada observasi pertama ada tiga deskriptor yang muncul, pada observasi kedua hanya ada satu deskriptor saja yang tampak, dan pada observasi ketiga ada dua deskriptor yang tampak. Kemampuan guru H dalam menutup pelajaran termasuk dalam kategori kurang baik (46,6%). Karena dari tiga kali observasi, pada observasi pertama guru H ada tiga deskriptor yang tampak, observasi ke dua hanya ada satu deskriptor yang muncul. Sedangkan pada observasi ketiga, guru H tidak melakukan kegiatan penutup sehingga tidak ada satupun deskriptor yang muncul.
Berdasarkan analisis indikator kegiatan penutup SMAN 11 termasuk kategori cukup (57,8%). Pada observasi guru I dari tiga kali observasi hanya dua deskriptor saja yang sering muncul dalam setiap observasi. Sehingga persentase kemampuan guru I dalam menutup pelajaran termasuk kategori cukup (60%). Kemampuan guru J dalam menutup pelajaran termasuk dalam kategori baik (80%). Dalam tiga kali observasi, pada setiap observsi guru J ada tiga deskriptor yang muncul secara bervariasi dalam setiap observasi yakni membuat kesimpulan bersama dengan peserta didik maupun sendiri, melakukan penilaian terhadap kegiatan yang sudah dilakukan, memberikan tugas individu kepada peserta didik dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Kemampuan guru K dalam menutup pelajaran termasuk dalam kategori tidak baik (33,4%). Karena dari tiga kali observasi, pada observasi pertama guru K ada dua deskriptor yang muncul, sedangkan pada observasi ke dua dan ketiga, guru K tidak melakukan kegiatan penutup sehingga tidak ada satupun deskriptor yang muncul.
Berdasarkan analisis indikator kegiatan penutup SMA ARINDA termasuk kategori kurang baik (50%). Guru L dalam menutup pelajaran, hanya ada satu deskriptor yang selalu muncul yakni memberikan tugas individual kepada peserta didik sesuai dengan hasil belajar. Sehingga persentase kemampuan guru L dalam menutup pelajaran termasuk kategori kurang baik (40%). Kemampuan guru M dalam menutup pelajaran termasuk dalam cukup (60%). Pada observsi guru M ada dua deskriptor yang muncul secara bervariasi dalam setiap observasi yakni membuat kesimpulan bersama dengan peserta didik maupun sendiri, memberikan tugas individu kepada peserta didik dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Berdasarkan analisis indikator kegiatan penutup SMA Srijaya Negara termasuk kategori kurang baik (53,4%). Dari tiga kali observasi guru N dan guru O dalam menutup pelajaran, persentase kemampuan keduanya sama-sama termasuk kategori kurang baik (53,4%). Pada observasi pertama guru N deskriptor yang muncul ada dua deskriptor, pada observasi kedua hanya muncul satu dekriptor dan pada observasi ketiga deskriptor yang muncul ada dua deskriptor. Sedangkan pada observasi guru O tidak jauh berbeda, pada observasi pertama dan kedua guru O deskriptor yang muncul ada dua deskriptor, dan pada observasi ketiga hanya muncul satu dekriptor saja yakni memberikan tugas individual sesuai dengan hasil belajar peserta didik.
Berdasarkan analisis tabel indikator kegiatan penutup SMA YULIS termasuk kategori tidak baik (33,4%). Dari tiga kali observasi guru P, persentase kemampuan dalam menutup pelajaran termasuk kategori tidak baik (33,4%). Pada observasi pertama guru P ada dua deskriptor yang muncul yakni membuat kesimpulan bersama-sama peserta didik dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Sedangkan pada observasi kedua dan ketiga, guru P tidak melakukan kegiatan penutup dalam proses pembelajaran sehingga tidak ada satu deskriptor pun yang muncul.
Dalam melaksanakan proses pembelajaran, alat/ media pengajaran memegang peranan yang penting sebab dapat membantu memperjelas materi pelajaran dan dapat menarik minat siswa. Namun dari tiga kali observasi yang dilakukan, rata-rata guru sama sekali tidak menggunakan alat/ media pengajaran. Hanya guru A (SMAN 1), J (SMAN 11), dan guru N (SMA Srijaya Negara) saja yang memakai alat/ media pengajaran seperti LCD dan charta. Sehingga rata-rata persentase kemampuan guru dalam mengguanakan media pembelajaran termasuk kategori tidak baik (23,33%).
Berdasarkan analisis indikator penilaian hasil belajar di SMAN 1 termasuk kategori kurang baik (53,33%). Guru A dalam tiga kali observasi hanya dua kali memberikan penilaian hasil belajar yakni pada observasi pertama dan ketiga, sedangkan pada observasi kedua tidak memberikan penilaian hasil belajar. Sehingga kemampuan guru A dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk dalam kategori cukup (60%). Guru B pada observasi pertama melakukan penilaian walaupun hanya sebagian besar soal tes sesuai dengan tujuan. Pada observasi kedua, guru B juga melakukan penilaian tapi hanya sebagian kecil soal tes yang sesuai dengan tujuan. Sedangkan pada observasi ketiga, tidak melakukan penilaian. Sehingga persentase kemampuan guru B dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk kategori kurang baik (53,4%). Sedangkan Guru C dalam tiga kali observasi hanya dua kali memberikan penilaian hasil belajar yakni pada observasi pertama dan kedua, sedangkan pada observasi ketiga tidak memberikan penilaian hasil belajar. Sehingga kemampuan guru C dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk dalam kategori kurang baik (46,6%).
Berdasarkan analisis tabel penilaian hasil belajar di SMAN 2 termasuk kategori cukup (63,33%). Guru D dalam tiga kali observasi selalu melakukan penilaian hasil belajar walaupun hanya sebagian besar saja soal tes yang sesuai dengan tujuan. Sehingga kemampuan guru D dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk dalam kategori baik (80%). Sedangkan Guru E dalam tiga kali observasi hanya dua kali memberikan penilaian hasil belajar yakni pada observasi pertama dan kedua, sedangkan pada observasi ketiga tidak memberikan penilaian hasil belajar. Sehingga kemampuan guru E dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk dalam kategori kurang baik (46,6%).
Berdasarkan analisis indikator penilaian hasil belajar di SMAN 10 termasuk kategori kurang cukup (64,47%). Guru F dalam tiga kali observasi hanya pada observasi pertama saja melakukan penilaian hasil belajar sedangkan pada observasi kedua dan ketiga tidak memberikan penilaian hasil belajar. Sehingga kemampuan guru F dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk dalam kategori kurang baik (40%). Guru G pada tiga kali observasi selalu melakukan penilaian hasil belajar. Pada observasi pertama melakukan penilaian dimana semua soal tes yang diberikan sesuai dengan tujuan. Pada observasi kedua hanya sebagian kecil saja soal tes yang sesuai dengan tujuan. Sedangkan pada observasi ketiga sebagian soal tes yang diberikan sesuai dengan tujuan. Sehingga persentase kemampuan guru G dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk kategori baik (80%). Sedangkan Guru H dalam tiga kali observasi juga selalu melakukan penilaian hasil belajar. Pada observasi pertama melakukan penilaian dimana semua soal tes yang diberikan sesuai dengan tujuan. Pada observasi kedua dan ketiga hanya sebagian kecil saja soal tes yang sesuai dengan tujuan. Sehingga persentase kemampuan guru H dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk baik (73,4%).
Berdasarkan analisis indikator penilaian hasil belajar di SMAN 11 termasuk kategori cukup (66,67%). Guru I dalam tiga kali observasi hanya dua kali saja melakukan penilaian hasil belajar yakni pada observasi pertama dan kedua. Sedangkan pada observasi ketiga tidak melakukan penilaian. Sehingga kemampuan guru I dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk dalam kategori kurang baik (46,6%). Guru J pada tiga kali observasi selalu melakukan penilaian hasil belajar tapi hanya sebagian besar soal tes saj ayang sesuai dengan tujuan. Sehingga persentase kemampuan guru J dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk kategori baik (80%). Sedangkan Guru K dalam tiga kali observasi juga selalu melakukan penilaian hasil belajar. Pada observasi pertama dan kedua melakukan penilaian dimana semua soal tes yang diberikan sesuai dengan tujuan. Pada observasi ketiga hanya sebagian kecil saja soal tes yang sesuai dengan tujuan. Sehingga persentase kemampuan guru K dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk kategori cukup (73,4%).
Berdasarkan analisis indikator penilaian hasil belajar di SMA ARINDA termasuk kategori kurang cukup (70%). Persentase kemampuan guru L dalam indikator penilaian hasil belajar termasuk dalam kategori cukup (60%). Sedangkan guru M pada indikator penilaian hasil belajar termasuk dalam kategori baik dengan persentase kemampuan penilaian hasil belajar sebesar 80%.
Berdasarkan analisis indikator penilaian hasil belajar di SMA Srijaya Negara termasuk kategori cukup (63,3%). Guru N dalam tiga kali selalu melakukan penilaian hasil belajar walaupun sebagian kecil saja soal tes yang diberikan sesuai dengan tujuan. Sehingga kemampuan guru N dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk dalam kategori cukup (60%). Guru O pada tiga kali observasi juga selalu melakukan penilaian hasil belajar. Pada observasi pertama melakukan penilaian dimana sebagian besar soal tes yang diberikan sesuai dengan tujuan. Pada observasi kedua dan ketiga hanya sebagian kecil saja soal tes yang sesuai dengan tujuan. Sehingga persentase kemampuan guru O dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk cukup (66,6%).
Berdasarkan analisis indikator penilaian hasil belajar di SMA YULIS termasuk kategori cukup (60%). Guru P dalam tiga kali selalu melakukan penilaian hasil belajar walaupun sebagian kecil saja soal tes yang diberikan sesuai dengan tujuan. Sehingga kemampuan guru P dalam melakukan penilaian hasil belajar termasuk dalam kategori cukup (60%).
Pada tabel 5 juga dapat diketahui dari rata-rata kesebelas indikator, penerapan standar proses di SMAN 1 termasuk kategori baik (79,19%), di SMAN 2 termasuk kategori baik (76,96%), di SMAN 10 termasuk kategori baik (78%), di SMAN 11 termasuk kategori baik (78,4%), di SMA ARINDA termasuk kategori baik (75,15%), di SMA Srijaya Negara termasuk kategori baik (77,58%), dan di SMA YULIS termasuk kategori cukup (69,07%).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
- Penerapan standar proses di sekolah dalam hal memenuhi persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran termasuk dalam kategori baik, dimana persiapan pelaksanaan proses pembelajaran (66,9%) termasuk kategori cukup, untuk beban kerja minimal guru dan buku teks (96,67%) termasuk kategori baik, kemampuan guru dalam mengelola kelas (93,33%) termasuk kategori baik, dan untuk kesan umum kinerja guru (100%) termasuk kategori baik.
- Penerapan standar proses di sekolah untuk kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran termasuk dalam kategori baik, dimana kemampuan guru dalam melakukan kegiatan pendahuluan (60,14%) termasuk kategori cukup, kemampuan guru dalam mengelola kegiatan inti yang terdiri dari kegiatan eksplorasi (96,65%) termasuk kategori baik, kegiatan elaborasi (98,08%) termasuk kategori baik, dan kegiatan konfirmasi (93,16%) termasuk kategori baik, sedangkan kemampuan guru dalam kegiatan penutup (50,49%) masih termasuk kategori kurang baik.
- Dalam penggunaan media pembelajaran, hanya beberapa guru saja yang mengguanakan media dalam proses pembelajaran. Sehingga kemampuan guru ekonomi dalam menggunakan media pembelajaran (23,33%) termasuk dalam kategori tidak baik.
- Kemampuan guru ekonomi dalam melaksanakan penilaian hasil belajar (63,01%) termasuk dalam kategori cukup.
5.2 Saran
- Dalam persyaratan pembelajaran hendaknya dapat dipenuhi dengan baik terutama untuk jumlah maksimal peserta didik dalam setiap rombongan belajar baiknya harus disesuaikan dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Karena apabila jumlah peserta didik terlalu banyak dalam rombongan belajar dapat menimbulkan kondisi kelas yamg kurang kondusif.
- Bagi guru untuk lebih meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan pendahuluan terutama dalam menyampaikan bahan pengait dan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai karena kegiatan pendahuluan dapat menyiapkan mental dan perhatian siswa agar terpusat pada hal yang akan dipelajari sehingga dapat memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar.
- Dalam kegiatan penutup guru bersama-sama dengan siswa hendaknya secara rutin menyimpulkan pelajaran sehingga siswa dapat turut aktif dalam menyimpulkan dan juga memperoleh gambaran yang jelas tentang makna serta esensi pokok persoalan yang baru saja dipelajari.
- Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru hendaknya menggunakan media (alat bantu) pembelajaran yang lebih beragam.
- Bagi guru hendaknya secara rutin melaksanakan penilaian terutama penilaian pada akhir pelajaran sebab penilaian ini sangat beragam untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang baru saja diajarkan.
- Bagi kepala SMA sekecamatan Ilir Barat I Palembang untuk lebih meningkatkan pembinaan terhadap guru-guru salah satu caranya melakukan supervisi secara rutin sehingga kompetensi guru dapat terus meningkat dan menjadi lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:PT Rineka Cipta
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta
FKIP Universitas Sriwijaya. 2006. Buku Pedoman Universitas Sriwijaya 2006/ 2007. Indralaya: Penerbitan Universitas Sriwijaya
Hamalik, Oemar. 2007. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara
Ikhsan Fuad. 2003. Dasar-Dasar Pendidikan. Jakarta: PT Asdi Mahasatya
Kusnandar. 2007. Guru Profesional. Jakarta: PT Rajawali Pers
Mulyasa, E. 2009. Kurikulum yang Disempurnakan Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Mulyasa, E. 2009. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara
Muslich, Masnur. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Konstektual. Jakarta: PT Bumi Aksara
Permen RI Nomor 41 Tahun 2007. 2007. Standar Proses untuk Satuan Tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Purwanto, Ngalim. 2004. Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ritonga. 2000. Ekonomi Kelas I SMA. Jakarta: PT Erlangga
Sagala, Syaiful. 2005. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: CV Alfabeta
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group
Sardiman, A. M. 2001. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sugiyono. 2005. Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta
Sugiyono. 2005 . Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta
Suryosubroto. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta
Syaiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran (untuk membantu memecahkan problematika belajar dan mengajar). Bandung: CV Alfabeta
Tarigan, Robinson. 2005. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara
Depdiknas. 2008. Mata Pelajaran Ekonomi. http://depdiknas.go.id. Diakses tanggal 15 April 2010
REKAPITULASI HASIL OBSERVASI DI SMAN 1
PALEMBANG
Indikator
|
Nilai rata-rata observasi
|
% rata-rata indikator
| ||||||
Guru A
|
Guru B
|
Guru C
| ||||||
Skor
|
%
|
Skor
|
%
|
Skor
|
%
| |||
1
|
1.1
|
4
|
80%
|
4
|
80%
|
4
|
80%
|
80%
|
1.2
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
1.3
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
4
|
80%
|
93,3%
| |
1.4
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2
|
2.1
|
3
|
60%
|
3,33
|
66,6%
|
3
|
60%
|
62,2%
|
2.2.1
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.2.2
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.2.3
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.3
|
3
|
60%
|
3
|
60%
|
2
|
40%
|
53,3%
| |
3
|
3.1
|
2,33
|
46,6%
|
1
|
20%
|
1
|
20%
|
28,87%
|
4
|
4.1
|
3
|
60%
|
2,67
|
53,4%
|
2,33
|
46,6%
|
53,33%
|
% rata-rata observasi
|
82,42%
|
80%
|
75,15%
|
79,19%
| ||||
Jumlah % rata-rata
|
79,19%
| |||||||
REKAPITULASI HASIL OBSERVASI DI SMAN 2
PALEMBANG
Indikator
|
Nilai rata-rata observasi
|
% rata-rata indikator
| ||||
Guru D
|
Guru E
| |||||
Skor
|
%
|
Skor
|
%
| |||
1
|
1.1
|
4
|
80%
|
3
|
60%
|
70%
|
1.2
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
1.3
|
5
|
100%
|
4,67
|
93,4%
|
96,7%
| |
1.4
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2
|
2.1
|
3
|
60%
|
3
|
60%
|
60%
|
2.2.1
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.2.2
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.2.3
|
4,33
|
86,6%
|
4,33
|
86,6%
|
86,6%
| |
2.3
|
3
|
60%
|
2
|
40%
|
50%
| |
3
|
3.1
|
1
|
20%
|
1
|
20%
|
20%
|
4
|
4.1
|
2,33
|
46,6%
|
4
|
80%
|
63,3%
|
% rata-rata observasi
|
77,56%
|
76,36%
|
76,96%
| |||
Jumlah % rata-rata
|
76,96%
| |||||
REKAPITULASI HASIL OBSERVASI DI SMAN 10
PALEMBANG
Indikator
|
Nilai rata-rata observasi
|
% rata-rata indikator
| ||||||
Guru F
|
Guru G
|
Guru H
| ||||||
Skor
|
%
|
Skor
|
%
|
Skor
|
%
| |||
1
|
1.1
|
4
|
80%
|
3
|
60%
|
3
|
60%
|
66,67%
|
1.2
|
5
|
100%
|
4
|
80%
|
4
|
80%
|
86,67%
| |
1.3
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
1.4
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2
|
2.1
|
2,67
|
53,4%
|
4
|
80%
|
3
|
60%
|
64,47%
|
2.2.1
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.2.2
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.2.3
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.3
|
3
|
60%
|
3
|
60%
|
2,33
|
46,6%
|
55,53%
| |
3
|
3.1
|
1
|
20%
|
1
|
20%
|
1
|
20%
|
20%
|
4
|
4.1
|
2
|
40%
|
4
|
80%
|
3,67
|
73,4%
|
64,47%
|
% rata-rata observasi
|
77,58%
|
80%
|
76,36%
|
78%
| ||||
Jumlah % rata-rata
|
78%
| |||||||
REKAPITULASI HASIL OBSERVASI DI SMAN 11
PALEMBANG
Indikator
|
Nilai rata-rata observasi
|
% rata-rata indikator
| ||||||
Guru I
|
Guru J
|
Guru K
| ||||||
Skor
|
%
|
Skor
|
%
|
Skor
|
%
| |||
1
|
1.1
|
4
|
80%
|
3
|
60%
|
3
|
60%
|
66,67%
|
1.2
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
1.3
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
4
|
80%
|
93,33%
| |
1.4
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2
|
2.1
|
3,67
|
73,4%
|
3
|
60%
|
3
|
60%
|
64,47%
|
2.2.1
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.2.2
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.2.3
|
4,67
|
93,4%
|
5
|
100%
|
3,67
|
73,4%
|
88,93%
| |
2.3
|
3
|
60%
|
4
|
80%
|
1,67
|
33,4%
|
57,8%
| |
3
|
3.1
|
1
|
20%
|
1,67
|
33,4%
|
1
|
20%
|
24,47%
|
4
|
4.1
|
2,33
|
46,6%
|
4
|
80%
|
3,67
|
73,4%
|
66,67%
|
% rata-rata observasi
|
79,4%
|
83,04%
|
72,75%
|
78,4%
| ||||
Jumlah % rata-rata
|
78,4%
| |||||||
REKAPITULASI HASIL OBSERVASI DI SMA ARINDA PALEMBANG
Indikator
|
Nilai rata-rata observasi
|
% rata-rata indikator
| ||||
Guru L
|
Guru M
| |||||
Skor
|
%
|
Skor
|
%
| |||
1
|
1.1
|
3
|
60%
|
3
|
60%
|
60%
|
1.2
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
1.3
|
5
|
100%
|
4
|
80%
|
90%
| |
1.4
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2
|
2.1
|
2,67
|
53,4%
|
3
|
60%
|
56,7%
|
2.2.1
|
4
|
80%
|
5
|
100%
|
90%
| |
2.2.2
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.2.3
|
4
|
80%
|
5
|
100%
|
90%
| |
2.3
|
2
|
40%
|
3
|
60%
|
50%
| |
3
|
3.1
|
1
|
20%
|
1
|
20%
|
20%
|
4
|
4.1
|
3
|
60%
|
4
|
80%
|
70%
|
% rata-rata observasi
|
72,12%
|
78,18%
|
75,16%
| |||
Jumlah % rata-rata
|
75,16%
| |||||
REKAPITULASI HASIL OBSERVASI DI SMA SRIJAYA NEGARA PALEMBANG
Indikator
|
Nilai rata-rata observasi
|
% rata-rata indikator
| ||||
Guru N
|
Guru O
| |||||
Skor
|
%
|
Skor
|
%
| |||
1
|
1.1
|
3
|
60%
|
3
|
60%
|
60%
|
1.2
|
5
|
100%
|
4
|
80%
|
90%
| |
1.3
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
1.4
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2
|
2.1
|
2,67
|
53,4%
|
4
|
80%
|
66,7%
|
2.2.1
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.2.2
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.2.3
|
5
|
100%
|
5
|
100%
|
100%
| |
2.3
|
2,67
|
53,4%
|
2,67
|
53,4%
|
53,4%
| |
3
|
3.1
|
1
|
20%
|
2
|
40%
|
30%
|
4
|
4.1
|
3,33
|
66,6%
|
3
|
60%
|
63,3%
|
% rata-rata observasi
|
75,76%
|
79,4%
|
78,4%
| |||
Jumlah % rata-rata
|
78,4%
| |||||
REKAPITULASI HASIL OBSERVASI DI SMA YULIS
PALEMBANG
Indikator
|
Nilai rata-rata observasi
|
% rata-rata indikator
| ||
Guru P
| ||||
Skor
|
%
| |||
1
|
1.1
|
3
|
60%
|
60%
|
1.2
|
5
|
100%
|
100%
| |
1.3
|
4
|
80%
|
80%
| |
1.4
|
5
|
100%
|
100%
| |
2
|
2.1
|
2,33
|
46,6%
|
46,6%
|
2.2.1
|
4,33
|
86,6%
|
86,6%
| |
2.2.2
|
4,33
|
86,6%
|
86,6%
| |
2.2.3
|
4,33
|
86,6%
|
86,6%
| |
2.3
|
1,67
|
33,4%
|
33,4%
| |
3
|
3.1
|
1
|
20%
|
20%
|
4
|
4.1
|
3
|
60%
|
60%
|
% rata-rata observasi
|
97,07%
|
69,07%
| ||
Jumlah % rata-rata
|
69,07%
| |||
LEMBAR OBSERVASI
Nama Satuan Pendidikan :
Alamat :
Nama Guru :
Lama Observasi :
Hari/ Tanggal :
No
|
Kriteria yang Diteliti
|
Deskriptor yang tampak
|
Deskriptor yang tidak tampak
|
Nilai
|
1
| Persyaratan Pelaksanaan Proses Pembelajaran | |||
| 1.1 Persiapan pelaksanaan proses pembelajaran | ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| 1.2 Beban kerja minimal guru dan buku teks pelajaran | ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| 1.3 Pengelolaan kelas dalam pelaksanaan proses pembelajaran | ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| 1.4 Kesan umum kinerja guru | ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| ||||
2
| Pelaksanaan Pembelajaran | |||
| 2.1 Kegiatan pendahuluan | ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| 2.2 Kegiatan inti | ||||
| 2.2.1 Eksplorasi | ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| 2.2.2 Elaborasi | ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| 2.2.3 Konfirmasi | ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| 2.3 Kegiatan penutup | ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| ||||
3
| Penggunaan Media Pembelajaran | |||
| 3.1 Menggunakan media pembelajaran yang sesuai | ||||
| Skala penilaian: | ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| ||||
4
| Penilaian Hasil Belajar | |||
| 4.1 Melaksanakan penilaian untuk hasil belajar | ||||
| Skala Penilaian | ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| ||||
| ||||
SELESAI
