Contoh Makalah bab II Pembahasan

Contoh Makalah bab II Pembahasan

Contoh Pembahasan Makalah


Ini adalah inti dari semuah makalah. Pada bagian inilah kamu memaparkan segala teori, metode penelitian, sasaran penelitian dan penjabaran atas penelitian atau laporan hasil penemuan di lapangan. Sekaligus menjelaskan permasalahan yang ditulis dalam bab pertama, yaitu rumusan masalah.

Pada bagian ini disajikan data-data ilmiah yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif serta teori-teori yang digunakan untuk menguatkan gagasan yang kamu angkat.

Data penelitian dapat disajikan dalam bentuk diagram, tabel atau grafik yang mudah dipahami oleh pembaca. Jika data yang didapat berupa hasil wawancara maka pemakalah dapat menuliskan kutipan dari narasumber.

Hati-hati, dalam bab pembahasan ini biasanya muncul asumsi penulis yang subjektif. Sehingga ia menuliskan berdasarkan opininya. Padahal semua asumsi yang ada dalam pembahasan ini harus berdasarkan referensi yang berupa literatur ataupun data empiris.

Berikut contoh pembahasan makalah yang baik:



BAB II

PEMBAHASAN

2.1. INSEKTISIDA NABATI

Insektisida adalah suatu macam dalam lingkup pestisida di samping yang lainnya. Definisi umum dari pestida adalah pembunuh hama, berasal dari kata pest yang berarti hama, dan sida berasal dari kata ceado yang berarti pembunuh atau racun. Macam-macam pestida antara lain : Insektisida, Fungisida, Rodentisida, Herbisida, Nematisida, Bakterisida, Virusida, Acorisida, Mitisida, Lamprisida dan lain-lain. Menurut Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973 batasannya adalah sebagai berikut :

Memberantas atau mencegah hama penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian.
Memberantas gulma.
Memetaikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan.
Mengatur/merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman (tidak merusak pupuk).
Memberantas atau mencegah hama luar pada hewan peliharaan/ternak.
Memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah tangga.
Memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang.
Syarat-syarat pestisida untuk dijadikan percobaan harus mencakup formula serta percobaan crop (pada tanaman). Untuk mengetahui efisien dari insektisida tersebut, haruslah memeperhatikan unsur-unsur sebagai berikut :

Daya bunuhnya
Penggunaan yang mudah
Daya tahan terhadap iklim
Berbahaya atau tidaknya terhadap manusia dan hewan-hewan peliharaan
Berbahaya atau tidaknya terhadap predator
Penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan
Tentang insektisida ini, kita mengenal pula adanya insektisida organik dan inseksida sintesis. Yang dimaksud dengan insektisida organis yaitu yanng berasal dari tanaman, misal : akar tuba, nikotin, dan lain-lain. Dan yang dimakasud dengan insektisida sintetis adalah yang dibuat, seperti : air raksa, timah, arsenat dan lain-lain.

Inektisida organik atau dengan kata lain insektisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang datpat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Pestisida nabati ini dapat berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh dan bentuk lainnya (Anonymous, 2002).

Secara umum insektisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Oleh karen terbuat dari bahan alami atau nabati maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan, dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residu mudah hilang (Anonymous, 2002).

2.2. INSEKTISIDA NABATI

Insektisida adalah suatu macam dalam lingkup pestisida di samping yang lainnya. Definisi umum dari pestida adalah pembunuh hama, berasal dari kata pest yang berarti hama, dan sida berasal dari kata ceado yang berarti pembunuh atau racun. Macam-macam pestida antara lain : Insektisida, Fungisida, Rodentisida, Herbisida, Nematisida, Bakterisida, Virusida, Acorisida, Mitisida, Lamprisida dan lain-lain. Menurut Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973 batasannya adalah sebagai berikut :

Memberantas atau mencegah hama penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian.
Memberantas gulma.
Memetaikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan.
Mengatur/merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman (tidak merusak pupuk).
Memberantas atau mencegah hama luar pada hewan peliharaan/ternak.
Memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah tangga.
Memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang.
Syarat-syarat pestisida untuk dijadikan percobaan harus mencakup formula serta percobaan crop (pada tanaman). Untuk mengetahui efisien dari insektisida tersebut, haruslah memeperhatikan unsur-unsur sebagai berikut :

Daya bunuhnya
Penggunaan yang mudah
Daya tahan terhadap iklim
Berbahaya atau tidaknya terhadap manusia dan hewan-hewan peliharaan
Berbahaya atau tidaknya terhadap predator
Penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan
Tentang insektisida ini, kita mengenal pula adanya insektisida organik dan inseksida sintesis. Yang dimaksud dengan insektisida organis yaitu yanng berasal dari tanaman, misal : akar tuba, nikotin, dan lain-lain. Dan yang dimakasud dengan insektisida sintetis adalah yang dibuat, seperti : air raksa, timah, arsenat dan lain-lain.

Inektisida organik atau dengan kata lain insektisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang datpat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Pestisida nabati ini dapat berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh dan bentuk lainnya (Anonymous, 2002).

Secara umum insektisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Oleh karen terbuat dari bahan alami atau nabati maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan, dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residu mudah hilang (Anonymous, 2002).




Share this:

Disqus Comments